Sabtu, 25 September 2010

Lelaki Api


Lelaki Api, takkan pernah padam hingga dini hari. Duduk bersimpuh di ruang yang sehariannya diduduki, SMA Negeri 1 Sutojayan. Bibirnya menderas mantra dzikir tak putus-putus selepas rakaat terakhir shalat malam. Sejenak ia akan berhenti, merebahkan tubuh kukuhnya di atas sajadah sambil menunggu adzan subuh berkumandang. Ritual ini dimulainya ketika anak-anak sedang melaksanakan kegiatan mulia, Pelatihan Pengurus OSIS. Lelaki itu tak mau anak-anak yang menempa landasan kepemimpinan itu terganyang masa. Sejenak tabuhnya diputar untuk menghilangkan rasa penat di pantat. Hanya berharap akan ridho Ilahi, semoga sekolah yang dipimpinnya mampu meraih keunggulan dan menjadikan anak-anak berkarakter dan berakhlak mulia.
Ketika para peronda menabuh kentongan untuk terakhir kalinya dan terdengar suara tarkhim berkumandang, lelaki itu masih tak enggan henyak dari sajadah itu. Suara-suara malam pelan mendendangkan bait terakhir nyanyiannya. Sebentar lagi riuh suara pagi akan mengganti. Allahuakbar allahuakbar .... subuhpun berkundang.
Lelaki Api, takkan padam hingga dini hari. Matanya terbelalak, ketika ketukan pintu yang terkunci itu diketuk. "Pak, njenengan imami lare-lare", suara lelaki dengan muka basah usai mengambil air wudhu. "Bapak, tidak tidur semalam", sapanya lagi. Lelaki itupun segera masuk kamar mandi di ruangan itu, mandi keramas dan megambil wudhu, lalu menuju mushola sekolah. Anak-anak sudah menunggu dan berderet menyanyikan pujian sholawat.
Lelaki Api itu menutup dengan doa selesai sholat yang senantiasa untuk siswa-siswi dalam menuju masa depan yang belum tampak di matanya. Semua siswa mencium tangan lelaki api itu dengan penuh keikhlasan. Bismillah Alhamdulillah walakhaulawalakuwwatailla billah...
Ya Allah berilah kekuatan lelaki api tersebut dengan kesehatan, agar takkan padam hingga kini. Berilah kekuatan dalam menjalankan amanahmu, hingga menjadi teladan bagi teman-temannya dan anak-anak. Hanya Engkau yang tahu apa ada dalam niatan lelaki itu. Bimbinglah hingga ajal menjemputnya.
Budi Elyas, lelaki api ...

3 komentar:

Nuh mengatakan...

Ini Budi Elyas (Math UNS 86-89) atau bukan ???

Nuh mengatakan...

Ternyata You masih seperti yang dulu... (suka nulis)
Salam kangen dari Kota Batik...

Budi Spoil 85 mengatakan...

Selamat berjumpa lagi Mas