Sabtu, 14 Februari 2009

Guru Membawa Misi Kenabian

Menjadi guru bukanlah cita-cita, tetapi jalan yang diberikan Allah memang tepat buat saya. Karena menjadi guru sama saja menjadi calon penghuni sorga.
Guru memegang misi kenabian. Karena guru memiliki murid/umat yang banyak, umat itu diharap akan menjadi orang yang berguna. Menjadikan umat yang baik tidaklah mudah. Beratnya tentu setimpal dengan imbalan yang diberikan.
Budi Spoil itu tren di kelas 2b1, karena saat itu kondisi hidup dan harapan memang spoil. Bagai tubuh saya seperti spoil (sel-sel yang rusak).
Tentu kondisi itu berubah juga. Sekarang sudah terjangkau apa yang sebagian diharapkan. Saya bersyukur dengan kondisi sekarang. Yaitu menjadi guru profesional. Profesional karena saya telah mendapat sertifikat profesi, dengan gaji golongan IV/a dan tambahan tunjangan profesi sebesar gaji pokok.
Budi Spoil, dalam sepak terjang kehidupan banyak yang dilalui. Sejak senghsara di SMA, karena harus menjadi anak asuhnya Pak Tarto, guru nggambar SMP 1 Blitar, ternyata banyak memperoleh tempaan banyak ilmu. Setelah lulus pun berbeda dengan teman Delima yang lain. Bisanya hanya mencari ikatan dinas. Ketemu Ikhsanul Habib, di Pos dan Giro dalam 10 besar, akhirnya gugur dan Habib katut ke Bandung, meski gugur juga karena buta warna.
Tahun itu juga saya harus kerja di Solo, akhirnya bisa kuliah di UNS. Saat di Solo memanfaatkan waktu aktif di Jurnalistik dan sebagainya. Banyak yang ditempa dan banyak yang diserap dan bermanfaat hingga sekarang. Kecerdasan dalam menetapkan pilihan. Termasuk memilih istri sing akhire podo pegawai negeri .. ha.. ha.. haa..
Makanya berdoa, beramal dan berbakti pada orang tua menjadi ukuran keberhasilan dalam berdoa. Jika punya rejeki banyak, jangan anggap pemberian tapi titipan, makanya pakai amal sebagian, agar langgeng. Tanyakan Pak Suyono Karangtengah (Agung PS) atau Pak Siswoyo Jatinom (Raja Perunggasan Indonesia). Hartanya langgeng ke anak cucu karena harta yang barokah. Sebagian diamalkan agar hartanya amanah.
Siapa yang mau demikian insya Allah amanah.

Minggu, 01 Februari 2009

OTONOMI SEKOLAH


OTONOMI SEKOLAH
Bukan Sak Karepe Dhewe

ERA otonomi daerah dan otonomi pendidikan yang sekarang sedang gencar dilaksanakan oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah telah mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurusi segala sesuatu tentang pendidikan di daerahnya masing-masing di seluruh Indonesia. Hal itu telah tertera dalam Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 1999. Kewenangan penuh tersebut dirumuskan dalam pasal 7 ayat 1; ''Kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali dalam kewenangan politik luar negeri, pertahanan keamanan, keadilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lain.''
Pada era otonomi tersebut kualitas pendidikan akan sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah daerah. Ketika pemerintah daerah memiliki political will yang baik dan kuat terhadap dunia pendidikan, ada peluang yang cukup luas bahwa pendidikan di daerah bersangkutan akan maju. Sebaliknya, kepala daerah yang tidak memiliki visi yang baik di bidang pendidikan dapat dipastikan daerah itu akan mengalami stagnasi dan kemandegan menuju pemberdayaan masyarakat yang well educated, tidak akan pernah mendapat momentum yang baik untuk berkembang.
Dalam otonomi sekolah nanti peran masyarakat yang sebelumnya termarjinalkan, akan memperoleh kepercayaan dalam mengatur untuk bisa berperan dalam pemberdayaan dan pengelolaan pendidikan. Tidak hanya sekedar sebagai penyumbang atau dana penambah bagi sekolah tetapi terlembagakan dalam Komite Sekolah. Dengan kata lain ketidakseimbangan dan ketimpangan antara hak dan kewajiban anggota Komite (yang terdiri dari masyarakat yang merupakan kumpulan para wali/ orang tua siswa) dalam manejemen sekolah harus ditiadakan. Karena sebelumnya (BP3) telah dijadikan lembaga yang seharusnya mewadahi partisipasi masyarakat menjadi lembaga yang tidak ada fungsinya (disfunction). Maka ketika otonomisasi digalakkan sudah saatnya masyarakat (orang tua) diikutsertakan dalam pengambilan keputusan di sekolah dalam berbagai hal. Tapi, tidak hanya sekedar sebagai formalitas belaka, yang artinya, orang tua ketika diikutsertakan dalam musyawarah dengan pihak sekolah tidak hanya sebagai objek atau hanya sebagai pendengar saja, melainkan harus benar-benar dilibatkan secara langsung.
Di SMA Negeri 1 Kesamben sejak diberlakukannya Undang-undang otonomi daerah sudah melakukan pola-pola otonomisasi. Pembentukan Komite Sekolah yang melibatkan tokoh masyarakat, kepala desa, tokoh pendidikan, LSM dan sebagainya sudah terbentuk. Mereka yang telah ditunjuk dan diangkat oleh kepala sekolah diharapkan berpartisipasi aktif dan melakukan perubahan/ perbaikan kea arah yang lebih baik dan maju. Namun dirasakan peran komite sekolah tetap tidak jauh berbeda dengan BP3 yang hanya berperan sebagai penyumbang dana untuk membantu kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Forum Komunikasi (FK) adalah salah satu bentuk kegiatan strategis dalam menampung dasar-dasar penyampaian aspirasi yang selanjutnya dijadikan bahan pertimbangan oleh Komite Sekolah. Rapat awal tahun ajaran juga menjadi bahan masukan penting dalam melakukan penyusunan program tahunan. Ini merupakan awal kegiatan dalam melakukan perubahan pola piker dari BP3 menjadi komite. Janganlah asal ikut-ikutan membentuk komite, namun diakui setengah hati dalam pelaksanaan pengembangan sekolah. Atau sebaliknya anggota komite tak mau susah payah, bajunya saja tampak komite, dalamnya tetap BP3.
Pada Ujian Akhir kelas III kemarin sebagian sudah menggunakan pola-pola Otonomi sekolah. Dimana sekolah melakukan pengaturan dalam pelaksanaan Ujian Sekolah secara mandiri. Misalnya SMA Pemuda dan SMA Islam Hasanuddin yang termasuk dalam satu kelompok penyelenggara ujian atau Sub rayon, juga melakukan pengaturan sendiri baik dalam penyediaan soal ujian, pengoreksian dan penilaian. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang masih menggabung SMA Negeri 1 Kesamben dalam pelaksanaan ujian sekolah. Sedangkan SMAN 1 Kesamben juga tergabung dalam MGMP SMA Kabupaten Blitar.
Evaluasi pelaksanaan Ujian Lokal yang sekarang diistilahkan Ujian Sekolah, yang notabenenya dikelola secara otonomi sekolah, mendapat penilaian lebih buruk disbanding sebelumnya. Ujian sekolah atau apa saja yang menjadi hajat sekolah itu urusan Negara bukan urusan perorangan. Oleh karena itu keseriusan dalam melakukan harus tetap dijaga. Kenapa demikian ? Karena dalam koreksi yang dilakukan secara otonomi itu tidak menggunakan kode. Apakah ini dikatakan lebih baik dan serius dalam penanganan masalah Negara di era otonomi ? Masih banyak lagi persoalan yang menurut orang tertentu tidak penting, namun kalau ada masalah pasti menjadi masalah besar dan menyangkut nama baik sekolah.
Pemberian dan berlakunya otonomi pendidikan nanti memiliki nilai strategis bagi sekolah untuk berkompetisi dalam upaya membangun dan memajukan sekolah. Terutama yang berkaitan langsung dengan sumber daya manusia (guru, pegawai, siswa) dan Komite Sekolah. Meski demikian tetap akan dilakukan jaringan kerjasama antar sekolah. Misalnya MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah), MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) dan sebagainya.
Oleh karena itu strategi yang harus dilakukan sekolah adalah bagaimana menampung aspirasi semua komponen, bagaimana baiknya, itu diperlukan koordinasi, jangan dikerjakan sendiri, dan seakan yang lain tidak tahu apa-apa, walaupun semua beres dalam pekerjaan. Kebersamaan dalam bersaing dengan sekolah lain menuju prestasi sekolah yang lebih maju harus tetap ditingkatkan dengan mengembangkan potensi guru dan siswa secara optimal, bukan persaingan di dalam kandang SMA Negeri 1 Kesamben. (Budi Elyas)
Pasca Lulusan dan Reuni 
ADA yang gembira, ada yang sedih dan ada yang terharu pasti setelah menerima hasil lulusan. Yang jelas semua telah berusaha maksimal. Saat-saat tegang telah lewat sementara. Semua siswa telah bekerja keras dalam menghadapi perlakuan pemerintah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. 
Selamat dan sukses dalam mencapai tahap awal ujian, yaitu ujian nasional. Setelah itu akan banyak ujian yang akan menghadang, sebagaimana yang dihadapi bangsa ini. Karena saat ini bangsa kita telah dihadapkan pada berbagai macam ujian nasional lainnya. Kemiskinan, pengangguran, krisis moral, kerusakan lingkungan, antrean panjang menerima BLT, serta ujian dalam menghadapi berbagai penjajahan global. Penggunaan teknologi informasi yang menjerat dengan rusaknya moral multidimensi. Banyak petani yang enggan bertani karena bangsa ini lebih senang mengkonsumsi buah buatan luar negeri dibanding buah sendiri. 
Ujian nasional sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa. Yang luar biasa justru setelahnya, pasca ini bisa apa. Demikian juga teman-teman lulusan SMA pada umumnya. Tantangan yang perlu dihadapi adalah kehidupan masa depan yang berubah cepat, tidak pasti, tidak jelas. Karena ujian nasional yang kompetensi diukur kognitifnya melalui format ujian paling dangkal dengan pilihan ganda. Ingat survei lembaga internasional menunjukkan bahwa hanya 1 dari 7 pelajar Indonesia yang mampu menunjukkan kompetensi higher order of thinking seperti problem solving. Sementara di negara yang ketinggalan jauh pada era sebelumnya seperti Finlandia 1 di antara 5 pelajar. 
Di Jepang pernah dilakukan penelitian melalui alumni beberapa sekolah. Semua siswa di sekolah dikelompokkan menjadi 3 (heigher, midler dan lower). Heigher adalah kelompok siswa yang nilainya di atas, atau kelompok siswa pintar. Kelompok Midler adalah mereka yang berada di peringkat tengah dan cenderung labil prestasinya. Sedangkan Lower berada di peringkat bawah. 
Setelah 20 tahun peneliti melakukan survei kepada alumni tentang pekerjaan dan penghidupan yang ditekuni. Ternyata antara prestasi waktu di sekolah dengan pekerjaan yang ditekuni setelah 20 tahun menunjukkan korelasi positif. Yang kelompok midler selalu berubah-ubah bidang pekerjaanya. Bahkan menunjukkan banyak pengusaha sukses dari kelompok ini. Kelompok higher juga demikian menunjukkan kemampuan yang tetap di atas dalam bidangnya. Meskipun tak sedikit yang menjadi anak buah dari kelompok midler, tetapi sebagai seorang ahli. Sedangkan kelompok terakhir lower menunjukkan spekulatif yang luar biasa. Ada yang menduduki posisi pengusaha sukses, dan tak sedikit yang sebagai pekerja dengan gaji rendah, tapi lower adalah pekerja yang baik, setia dan loyal pada pimpinan.
Waktu SMA, saya memiliki 3 teman yang duduk di dekat bangku saya. Mereka memiliki cara yang berbeda-beda cara belajarnya. Yang pertama Eban. Dia mampu membeli semua buku dan fasilitas sekolah tapi tak begitu pintar dalam pelajaran. Kedua Gandung. Dia tak pernah membawa buku kecuali sebuah buku tulis yang selalu diselipkan di kantong saku belakang celana. Meski demikian dia tergolong anak yang cerdas. Yang ketiga Bondan. Bondan adalah anak yang rajin tapi agak pelit bagi-bagi jawaban, sehingga kadang kertas jawabannya direbut paksa Eban. Suatu musibah jika buku catatannya hilang dicuri Gandung menjelang ujian. Satu hal buruk yang dimiliki mereka adalah mereka sering membuat saya pusing karena sering kentut di kelas.
Pada suatu ulangan, ketiga orang ini saling bekerja sama tetapi kadang saling menjatuhkan. Gandung selalu cepat menjawab pertanyaan, tapi kadang ditolak Bondan kebenarannya sehingga membuat Eban bimbang mana yang benar. Karena Eban termasuk dedel sering menggantungkan dari kedua temannya itu. Eban, meski tak begitu pintar di kelas kini menjadi dokter. Bondan kini menjadi manager suatu perusahaan. Sedangkan Gandung yang kurang beruntung, meskipun lulusan UGM. 
Ternyata keberuntungan dan nasib di Indonesia masih menjadi harapan banyak orang dalam menemukan kehidupan. Tak selamanya ketekunan, dan kepintaran saat di kelas menjamin masa depan. Itulah kebesaran Illahi yang sulit kita prediksi. Semua sudah diatur yang kuasa 
Suatu ketika kami berempat dalam reuni. Gandung yang kini sakit-sakitan tak mau cek ke dokter Eban, karena waktu SMA selalu nyontek Gandung. Bondan yang dulu pelit kini sering membantu Gandung. Kami saling bernostalgia/ bincang mengenang masa lalu yang sulit kita lupakan. Saat-saat seperti itulah kita bisa introspeksi. Reuni adalah saat indah mengenang masa lalu. Tetap membutuhkan adanya pertemuan setelah lulusan, tetap butuh adanya jalinan komunikasi. 
Ketika sudah agak lama berbincang, rasanya ada yang terulang kekonyolan seperti saat di kelas dulu. Ada bau tak sedap lewat. Gandung yang ingat kebiasaan di SMA, langsung nuduh Eban yang jadi tumbal. Saling tuduh seperti waktu di sekolah terjadi. 
”Dulu dengan sekarang nggak jauh beda. Namanya kentut tetap barang busuk, mbok ditutup-tutupi panggah bau busuk”, kata Eban menunjuk Bondan yang tetap tertawa cekakaan. Suasana pun berubah. (Budi Elyas)